Seorang Guru Mengancam Murid Menggunakan Death Note

Seorang Guru SD dari Fukushima Mengancam Murid Menggunakan Death Note

Dalam sebuah pertemuan di sekolah dasar prefektur Fukushima pada hari Rabu minggu lalu, dibahas sebuah kejadian yang melibatkan salah seorang guru di sekolah tersebut. Guru tersebut mengatakan kepada para murid bahwa dirinya akan menuliskan nama murid di buku Death Note. Pada pertemuan tersebut, pihak sekolah meminta maaf pada kepada para pendamping murid atas kelakuan guru itu.

Menurut pihak sekolah, guru pria berusia sekitar 30 tahunan ini menggunakan tablet PC miliknya untuk menampilkan gambar buku Death Note kepada para murid. Guru ini dilaporkan menggunakan gambar tersebut untuk memperingatkan para murid sejak akhir November hingga awal Desember pada tahun 2016 kemarin. Pihak sekolah juga mengatakan, guru tersebut berkata kepada empat murid dari kelas empat dan kelas enam bahwa dirinya akan menuliskan nama mereka di Death Note.

Wali kelas dari murid-murid tersebut kemudian melaporkan kejadian kepada kepala sekolah, dan guru yang bermasalah tersebut mendapat teguran dari pihak sekolah. Kepala sekolah tak lupa untuk meminta maaf kepada para pendamping murid tahun lalu. Dalam sebuah pernyataan kepada Fukushima Minyu Shimbun, sang kepala sekolah mengatakan “Saya tidak merasa murid-murid menyukai hal ini. Sebagai bentuk peringatan kepada murid, cara seperti ini tidaklah benar.”

Namun ini bukan kejadian pertama yang melibatkan Death Note. Sebelumnya, seorang murid SMA di Richmond, Virginia pada tahun 2007 dihukum terkait daftar nama teman-teman sekelasnya yang dikaitkan dengan Death Note oleh kepala sekolah. Disusul dengan pemindahan seorang murid SMP di Hartsville, South Carolina terkait Death Note pada tahun 2008. Kemudian di Gadsden, Alabama dua orang murid kelas enam ditahan karena menuliskan nama para staf sekolah dan beberapa nama murid lain di Death Note.

Kejadian yang melibatkan seri ini di Amerika tercatat lebih dari sepuluh kasus dimana kemudian pihak sekolah melakukan tindakan pendisplinan terhadap para murid tersebut. Bahkan di Rusia, presiden Putin mendapatkan surat dari beberapa kelompok orang tua untuk melarang peredaran manga seri ini pada tahun 2013 karena dituduh dapat mengajarkan hal yang tidak baik kepada anak-anak. Di Belgia tahun 2010, ditemukan potongan tubuh dari seorang anak berusia tiga tahun didekat sebuah catatan yang kemudian dihubungkan dengan Death Note. Lalu seorang guru di Sydney, Australia menemukan “Death Note” dalam tas milik murid laki-laki kelas delapan pada tahun 2009.

Jadi buat kalian yang masih mempertanyakan kekuatan dari Buku Death Note, Coba tanyakanlah pada mereka. Mungkin guru-guru di Indonesia perlu dibekali buku ini (ditambah kekuatan simbah) agar kekerasan terhadap siswa atau sebaliknya bisa dikurangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *